Rabu, 30 Januari 2013

Memori Yang Tak Akan Terlupakan

Etos Bandung, itu adalah keluarga pertama (yang tidak ada hubungan darah) yang aku temukan di kota yang mempunyai julukan kota kembang ini. Sebagai salah satu penerima Beastudi Etos Bandung tahun 2010, suatu nikmat dari Allah swt. yang diberikan-Nya kepada ku, makhluk yang selalu melakukan keslahan kepada-Nya.

Berawal dari tujuh orang yang kemudian mengerucut menjadi tiga orang dikarenakan empat orang lainnya lebih memilih beasiswa yang lain (hak mereka untuk menentukan). Selama kurang lebih dari 1 semester, tiga etoser Bandung 2010 mengikuti segala pembinaan yang telah dirancang oleh pihak manajemen, baik pembinaan di asrama maupun pembinaan serta kegiatan-kegiatan yang lain yang melibatkan seluruh civitas keluarga Etos Bandung. Itulah kami, etoser 2010 yang terdiri dari Yoga, Icha, dan saya sendiri.

Satu semester pun berlalu, akhirnya ada lagi anggota baru yang hadir di keluarga etos Bandung, khususnya untuk kami yang angkatan 2010. Tiga saudara baru, Ian, Fathy, dan Afif. Finally, etoser Bandung 2010 berjumlah enam orang.

Saat-saat kebersamaan saya rasakan ketika kami masih duduk di semester II. Sering berkumpul di salah satu kamar, bernyanyi ataupun bercerita, ngisi TTS, bersenda gurau, dan lain-lain. Yang terasa hanya kebahagiaan dan senyuman dari kami semua.

Mulai beranjak menuju penjurusan kuliah, kita mulai disibukkan dengan urusan masing-masing. Kebersamaan yang dulu dirasakan pun akhirnya lambat laun pudar. Pernah muncul sesekali kebersamaan itu, yaitu pada saat menjelang Temu Etos Nasional (TENS). Kita jeprat-jepret foto angkatan di kampus tercinta, ITB. Berfoto bersama-sama 1 angkatan dan manajemen etos Bandung.

Selang 1 tahun dari TENS, kami belum pernah lagi kumpul 1 angkatan full. Akhirnya, di bulan Ramadhan, sekali lag Allah menggerakkan hati kami untuk berkumpul 1 angkatan dalam acara buka bersama di suatu tempat makan di Kota Bandung.


Sekarang, kami telah menduduki semester 6, itu artinya semester terakhir di asrama etos Bandung. Aku berharap, semoga kekeluargaan kita tidak akan pernah berakhir sampai akhir hayat kita nanti. Meskipun disibukkan dengan amanah masing-masing, aku berharap kita akan berkumpul lagi suatu hari nanti setelah kita berpisah jauh.

Sampai jumpa di puncak kesuksesan masing-masing, teman-teman


Urban Drainage - Survey Part I

suasana yang lumayan panas, sang surya yang membagikan sinarnya kepada belahan timur Bumi ini tidak mengurungkan niat kami, tim survey kelompok 10 Drainase 2013 untuk berangkat ke lokasi. Lokasi? Ya, kita mendapatkan tugas asistensi yang pertama di semester 6 ini, yaitu melakukan survei mengenai kondisi eksisting yang ada pada saluran-saluran drainase di berbagai daerah Kota Bandung. Kelompok kami mendapatkan lokasi disekitar Kantor Walikota Bandung. Sekedar info aja nih, Kantor Walikota Bandung itu terletak di Jalan Wastukancana No. 2 (kalo salah tolong dikoreksi ya).

singkat cerita, akhirnya laskar surveyor untuk hari ini ada lima orang, dan sebagian yang lainnya berhalangan karena masih ada kelas (kuliah) yang lain. Berangkatlah kita menuju lokasi (sebelumnya kita makan siang dulu untuk mengisi energi, kalo mau tau kita makan siang pake apa, kita makan baso, hehe) yang akan di survey. Sesampainya disana, subhanallah, yang awalnya kita mau mengukur kedalaman dan lebar saluran, jadi agak ragu-ragu karena lebarnya yang lumayan besar. maklum, alat ukur yang kita bawa hanya sebuah penggaris beukuran panjang 30cm, sedangkan salurannya dalam satuan meter (perkiraan).

tanpa membuang waktu, akhirnya kita hanya jeprat-jepret keadaan saluran saat itu (Bandung, 30 Januari 2013 pukul 14.35 WIB dalam keadaan yang cerah alias panas). Berikut hasil jeprat-jepret yang kita telah kita lakukan


selain itu juga kita sempat merekam video mengenai keadaan saluran disana.
Selanjutnya, kita mengelilingi saluran tersebut, tiba-tiba saya melihat ada cara untuk turun menuju saluran, dan akhirnya turun deh ke salurannya untuk melihat keadaan disana lebih dekat.
ternyata saluran drainase yang mengelilingi Kantor Walikota itu mengalirkan air jenis "grey water". Bagi temen-temen yang ga tahu apa itu grey water, grey water adalah air limbah domestik yang bukan berasal dari kotoran manusia, contohnya air bekas cucian dkk.

Kita yang akhirnya bisa menginjakkan kaki di saluran drainase ini langsung mengukur lebar dan kedalaman saluran. Ternyata lebar salurannya melebar ditengah perjalanan saat kita mengelilingi saluran tersebut. Bentuk salurannya adalah Trapesium Siku-Siku. pada saluran ini juga terdapat "street inlet", yaitu saluran air yang berasal dar jalan dan masuk ke saluran drainase utama. Ada beberapa street inlet disana dan juga beberapa saluran yang berasal dari Kantor Walikota. Namun pada saat survei, keadaan kedua saluran inlet ini kering karena cuacanya sedang tidak hujan.




Ternyata, setengah dari panjangnya saluran drainase sebelah kiri (jika dilihat dari Jalan Merdeka) itu masuk ke dalam bagian wilayah Kantor Walikota. Diujung saluran terbagi menjadi dua, ada yang masuk ke jalan kota dan yang satu lagi mengelilingi sebagian kantor. Keadaannya tidak sebagus yang diluar yang bebas dari sampah. Saluran yang didalam itu terdapat banyak sampah yang dapat menghambat laju air yang mengalir. Keadaannya bisa dilihat pada gambar dibawah



Akhirnya, langit pun menampakkan dirinya bahwa akan turun hujan dengan gelapnya awan-awan diatas kami serta bertiupnya angin yang lumayan kencang. Kami berencana untuk melihat kondisi saluran ketika sedang turun hujan, namun apa daya sang waktu pun telah menunjukkan pukul 15.23 WIB yang menandakan bahwa survei harus kami akhiri karena masih ada kelas (kuliah) lagi.

Keputusan bersama kita ambil dan finally kita pulang kem kampus lagi. Survei selanjutnya akan kita lakukan di kemudian hari bersama anggota full team, insya Allah.